Pelatihan Pendidikan Politik untuk Perempuan Lebih Berdaya


            “Tak akan ada pemberdayaan lebih kekal berkelanjutan, tanpa melibatkan perempuan,” ungkap Najwa Shihab dalam acara kenamaannya Mata Najwa edisi “Mereka yang Perkasa”.

 

Pernyataan ini seolah mewakili perhatian PETRASA akan perempuan. Dalam membangun kehidupan yang berkelanjutan, PETRASA ingin memberdayakan perempuan-perempuan di Kabupaten Dairi melalui berbagai pelatihan. Salah satunya adalah Pelatihan Pendidikan Politik bagi kelompok Perempuan Potensial Dampingan PETRASA.

            Pukul sepuluh pagi, empat staf Divisi Advokasi PETRASA dan 23 orang perempuan potensial berangkat dari halaman kantor PETRASA menuju Silalahi. Pelatihan dilaksanakan selama dua hari yakni Jumat sampai dengan Sabtu (27-28/7/18) tepatnya di Sidebang Hotel.

Sejatinya, pelatihan kali ini adalah kelanjutan dari pelatihan perempuan potensial yang dilaksanakan tahun lalu di Samosir. PETRASA memang ingin pelatihan perempuan ini menjadi agenda berkelanjutan. Sebab PETRASA yakin proses pemberdayaan tidak bisa dilakukan dalam satu malam tapi harus berkelanjutan.

            Perempuan-perempuan potensial ini dipilih karena keaktifan mereka dalam kelompok masing-masing. Mereka aktif mengambil peran sebagai pengurus di kelompok Credit Union (CU) seperti menjadi ketua, sekretaris, ataupun bendahara, sebagian dari mereka juga aktif dalam berbagai aktivitas kelompok lainnya di desa. Oleh karena itu, keduapuluh tiga perempuan ini diharapkan dapat menularkan semangat kepemimpinan pada perempuan di kelompok mereka dan mau untuk terlibat dalam organisasi yang lebih besar.

            Topik pelatihan tahun ini adalah tentang perempuan dan politik. Sarma Hutajulu, S.H anggota DPRD Sumatera Utara dari Komisi A hadir menjadi narasumber utama. Ia membagikan pengalamannya menjadi perempuan yang bergerak di bidang politik. Ia menularkan semangatnya kepada 23 perempuan potensial supaya tidak takut mengambil peran. Ia juga menekankan bahwa perempuan justru harus mengambil peran dalam organisasi yang lebih besar. Sebab perempuan memiliki keunikan tersendiri dalam berpolitik.

            Sebelum mulai berdiskusi, staf PETRASA, Muntilan Nababan terlebih dulu memimpin sessi pemetaan masalah dan harapan para perempuan potensial. Peserta diminta menulis dalam kertas apa saja yang menjadi kekhawatiran mereka dan harapan mereka dengan mengikuti pelatihan ini.

            Para perempuan potensial ini dengan jujur menuliskan bahwa mereka khawatir dengan ijin dari keluarga. Peran mereka sebagai istri dan ibu serta tugas mereka di rumah dan di ladang telah banyak menyita waktu. Keluarga sulit memberi ruang pada mereka untuk terjun pada politik karena besarnya tanggung jawab mereka dalam rumah tangga.

            Sarma Hutajulu, SH pun menjawab kekhawatiran tersebut dengan menjelaskan pentingnya memberi pengertian secara perlahan kepada keluarga. Artinya dibutuhkan pendekatan yang khusus dengan cara membangun komunikasi yang efektif dengan suami, orang tua, mertua, dan anak. Ibu Sarma yakin komunikasi yang sifatnya dua arah akan melahirkan pengertian yang baik.

Meski banyak kekhawatiran, dua puluh tiga perempuan potensial ini optimis bahwa dengan pelatihan ini mereka lebih memahami kepemimpinan perempuan, lebih aktif berpartisipasi untuk masyarakat, dan semakin berani mengutarakan suara mereka. Mereka juga berharap, kehadiran Sarma Hutajulu sebagai narasumber menginspirasi mereka untuk kelak maju menjadi dewan perwakilan rakyat di Kabupaten Dairi.

            Pelatihan yang dilaksanakan selama dua hari ini memang padat dengan materi. Meski begitu para perempuan potensial ini tetap semangat karena Ibu Sarma Hutajulu sebagai narasumber berbagi ilmu dengan cara yang interaktif. Tanpa kesan menggurui, beliau menempatkan diri sebagai kawan yang juga sedang berjuang untuk memajukan kehidupan para perempuan.

            Sebelum acara usai, Ibu Sarma Hutajulu menyarankan pelatihan seperti ini bisa terus berlanjut dari tahun ke tahun. Ia bahkan usul untuk dibuatkan topik tentang teknik berkomunikasi yang efektif dan efisien kepada perempuan potensial supaya mereka mampu menyuarakan hak-hak mereka. Tidak lupa ia mengingatkan PETRASA untuk tidak berhenti mendampingi para perempuan potensial sekalipun pelatihan telah berakhir.

Gloria br. Sinaga, anggota Divisi Advokasi PETRASA menambahkan, “Pelatihan pendidikan politik bagi perempuan potensial ini harus bisa jadi bekal untuk para perempuan dampingan kita di Kabupaten Dairi berani tampil dan berjuang di ruang-ruang publik.”

            Acara pun ditutup dengan pemberian cinderamata berupa kopi Sidikalang Arabica Coffee dan foto bersama. Rombongan kembali ke Sidikalang dengan perasaan senang karena mendapat bekal yang masih segar  dan semangat besar untuk berkontribusi bagi sekitar mereka.

 

 

Febriana Tambunan