Pelatihan Pertanian Berkelanjutan Bersama GKPPD: Mengolah Alam, Menyuburkan Iman

Kontributor: Asef Hutasoit dan Elovani Zeinsiska

“Tuppak Simerpara, merbuah dahan parira”
“Menumpak Tuhan Debata, Njuah-Njuah kita karina”

Dalam semangat menjaga bumi dan memberdayakan jemaat, PETRASA bersama Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) menyelenggarakan Pelatihan dan Lokakarya Pembuatan Bokashi pada Kamis, 7 Agustus 2025.

Dipandu oleh Asef Hutasoit dari PETRASA, kegiatan ini diikuti jemaat GKPPD dengan latar belakang pertanian yang beragam. Pelatihan diawali dengan kisah “Perjalanan Pertanian Selaras Alam di Kabupaten Dairi” yang membuka wawasan peserta tentang potensi sumber daya lokal.

Bokashi: Pupuk Organik Ramah Lingkungan

Bokashi adalah pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan alami seperti batang pisang, bonggol jagung, dedaunan, sekam, dedak, serbuk gergaji, dan kotoran ternak. Dengan bantuan mikroorganisme, Bokashi dapat:

  • Memperbaiki struktur tanah
  • Meningkatkan unsur hara
  • Mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia

Bahan-bahan untuk praktik langsung disiapkan dari sekitar Kantor Pusat GKPPD. Peserta belajar dari persiapan bahan, pencampuran, proses fermentasi, hingga tips penyimpanan dan penerapan di lahan.

Antusiasme dan Langkah Nyata

Sesi tanya jawab berlangsung hangat, dengan peserta ingin tahu dosis tepat, teknik penyimpanan, hingga peluang usaha dari pupuk organik. Sebagai dukungan berkelanjutan, Departemen Diakonia GKPPD menyediakan mesin pencacah yang bisa dimanfaatkan jemaat untuk memproduksi Bokashi.

Pelatihan ini ditutup dengan ibadah singkat dan seruan penuh semangat:
“Tuppak Simerpara, merbuah dahan parira”
“Menumpak Tuhan Debata, Njuah-Njuah kita karina!”


Budidaya Ayam Kampung Berbasis Pakan Lokal: Solusi Mandiri, Murah, dan Ramah Lingkungan

Kontributor: Ganda Sinambela

Dalam rangka memperkuat pengetahuan peternak dan meningkatkan pendapatan petani, Yayasan PETRASA menyelenggarakan Pelatihan Budidaya Ayam Kampung Berbasis Pakan Lokal pada Rabu, 23 Juli 2025, di Desa Sigalingging. Kegiatan ini diikuti oleh 23 peternak dari 10 desa dampingan.

Pelatihan ini bertujuan memperkenalkan teknologi budidaya ayam kampung yang mudah, murah, dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan bahan pakan lokal seperti dedak, jagung, daun pepaya, dan daun singkong. Salah satu sorotan utama adalah pemanfaatan maggot Black Soldier Fly (BSF), sebagai sumber protein tinggi sekaligus pengurai limbah ternak.

Kegiatan ini berlangsung di kandang milik Fransiskus Sigalingging, peternak lokal yang telah mempraktikkan sistem ini secara nyata. Materi pelatihan mencakup teknik dasar budidaya ayam kampung, pembuatan kandang, pengolahan pakan fermentasi, budidaya maggot BSF, hingga strategi pemasaran dan perawatan ayam secara alami.

Selain teori, peserta juga melakukan praktik langsung fermentasi pakan dan panen maggot. Antusiasme tinggi terlihat sepanjang pelatihan, khususnya pada sesi praktik.

Dengan keterampilan ini, peternak diharapkan dapat mengembangkan usaha ternak secara mandiri, mengurangi ketergantungan pada pakan pabrikan, dan berkontribusi terhadap pengelolaan limbah organik yang lebih berkelanjutan.

Petani Muda, Harapan yang Tumbuh di Kampung Sendiri

Kontributor: Boy Hutagalung

Di tengah dinginnya malam Desa Lingga Raja II, enam belas pemuda duduk melingkar, saling berbagi cerita. Bukan sekadar berkumpul, mereka sedang menyalakan harapan. Dari tanggal 28 hingga 31 Juli 2025, mereka mengikuti Youth Farmer Training bertema “Growing Tomorrow, Nurturing Life, and Stewards Of The Earth.”

Mereka datang dengan beragam latar belakang, namun membawa keresahan yang sama. Mengapa petani makin sedikit, dan apakah bertani masih layak diperjuangkan?

Empat hari bersama, pengalaman belajar apa yang mereka tapaki?

Hari Pertama: Menyuarakan Kegelisahan

Pelatihan dibuka dengan refleksi tentang kondisi regenerasi petani. Diskusi berlangsung hangat: sebagian peserta mengaku pernah merasa malu disebut petani, sebagian lain ditentang orang tua karena memilih bertani daripada kerja kantoran. Namun semua sepakat, pertanian adalah fondasi kehidupan, dan harus diperjuangkan.

Hari Kedua: Belajar dari Alam

Hari kedua, mereka turun ke lahan. Peserta belajar membuat asupan pertanian dari bahan alami, mol, fermentasi daun, urin ternak, dan lainnya. Mereka juga mengenal ekologi tanah secara sederhana: menggenggam tanah, mencium baunya, memahami tanda-tanda kehidupan mikro di dalamnya.

“Ternyata bertani bisa dilakukan dengan bahan di sekitar kita,” ujar salah satu peserta.

Hari Ketiga: Bertani Terpadu dan Mandiri

Di hari ketiga, mereka menyaksikan bagaimana pertanian bisa saling terintegrasi: kopi dan lebah, padi dan ikan, ayam dengan pakan maggot. Mereka belajar langsung dari para petani dan peternak organik yang telah mendedikasikan diri mereka bertahun-tahun. Dari para petani teladan ini tumbuh rasa hormat. Tak hanya soal efisiensi, sistem ini juga menumbuhkan rasa hormat pada alam terlebih pada para petani dan peternak penjaga pangan dan alam.

Hari Keempat: Kepemimpinan dan Jaringan

Hari terakhir, mereka diajak menggali potensi diri sebagai pemimpin muda di komunitas. Sesi jejaring dibuka, ruang untuk saling bertukar kontak, rencana kolaborasi, bahkan mimpi membangun kelompok tani muda. Pelatihan ditutup dengan pemberian sertifikat, namun yang lebih penting telah lahir keyakinan baru bahwa bertani adalah masa depan.

Belajar dari Petani, Kembali ke Akar

Selama pelatihan, peserta tidak belajar dari buku atau dosen, tetapi dari para petani organik dampingan PETRASA. Lewat pendekatan farmer to farmer, pengetahuan ditularkan dengan bahasa yang membumi dan berbasis pengalaman nyata.

Dan malam itu, ketika obor menyala di tengah lingkaran, satu hal menjadi jelas: regenerasi petani tidak hanya soal kebijakan.

Ia tumbuh dari keberanian pemuda untuk kembali mencintai tanahnya. Maka bertani, bukan karena terpaksa, tapi karena tahu, inilah cara merawat hidup.

Cari Ilmu ke Serdang Bedagai, PETRASA dan Petani Perdalam SLI dan Padi Organik

Petani PETRASA dan Petani BITRA berfoto bersama setelah kunjungan belajar SLI dan padi organik

Kontributor: Boy Hutagalung – Kepala Divisi PSA

Pada tanggal 17–18 Juli 2025, PETRASA melalui Divisi Pertanian Selaras Alam (PSA) mengadakan kunjungan orientasi lapangan ke Yayasan Bitra Indonesia. Bertempat di hamparan persawahan Desa Dame, Kecamatan Dolok Masihul, kunjungan ini menjadi ruang belajar yang inspiratif bagi delapan petani dampingan PETRASA dan staf pendamping.

Tujuan utama kegiatan ini adalah memperkuat kapasitas petani dalam menghadapi perubahan iklim melalui pendekatan data-driven dalam pengelolaan pertanian. Salah satu fokus utama kunjungan ini adalah mempelajari program Sekolah Lapang Iklim (SLI) dan sistem budidaya padi organik dari petani dampingan Bitra Indonesia.


SLI: Menyelaraskan Tanam dengan Iklim

Sekolah Lapang Iklim (SLI) merupakan program kolaboratif antara BMKG, pemerintah Desa Dame, dan komunitas petani setempat. Program ini tidak hanya mengajarkan petani membaca prakiraan musim atau mengenali fenomena iklim ekstrem, tetapi juga bagaimana mereka dapat merespons kondisi tersebut dengan praktik pertanian yang adaptif.

Di demplot seluas 3 rante (1.200 m²), para petani menanam varietas padi mentik susu menggunakan sistem pertanian organik. Di sinilah mereka belajar langsung di lapangan, mulai dari membaca data cuaca lokal, merencanakan pola tanam, hingga mengenali teknik yang mampu menjaga hasil panen tetap optimal di tengah perubahan iklim yang tidak menentu.

SLI membuka ruang dialog yang partisipatif dan aplikatif. Petani PETRASA dan BITRA saling bertukar pengalaman, belajar bersama, dan saling menginspirasi. Diskusi dilakukan secara santai namun penuh makna — menjadikan pengalaman ini bukan sekadar studi banding, tetapi sebagai proses pertumbuhan bersama.


PAMOR dan Semangat Transformasi Pertanian

Kunjungan juga dilanjutkan ke Unit PAMOR Serdang Bedagai di Jambur Pulau. Di sini, diskusi mengupas perjuangan para petani dalam membangun sistem pertanian yang lebih sehat, ramah lingkungan, dan berkeadilan.

Dalam PAMOR, pertanian organik dipercaya bukan hanya soal bebas dari bahan kimia sintetis. Ini adalah gerakan hidup: menjaga kesuburan tanah, melestarikan keanekaragaman hayati, dan membangun sistem pangan yang adil bagi semua. Lebih dari itu, ini adalah bentuk perlawanan terhadap krisis ekologi dan ketimpangan yang masih membayangi petani kecil.

Budidaya padi organik menjadi bukti bahwa pertanian bisa menjadi solusi. Tak hanya menghasilkan beras yang sehat untuk konsumen, tapi juga menurunkan biaya produksi, menjaga kesehatan tanah, dan meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.


Bertani untuk Masa Depan yang Lestari

PETRASA melalui Divisi Pertanian Selaras Alam percaya bahwa pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi jalan perubahan sosial. Ketika petani belajar membaca cuaca, mengelola lahannya dengan bijak, dan menjalin solidaritas lintas komunitas, di situlah lahir harapan akan masa depan pangan yang berdaulat dan berkelanjutan.

Dalam setiap proses belajar, PETRASA hadir sebagai teman seperjalanan. Kami akan terus mendampingi petani untuk membangun pertanian yang tangguh iklim, selaras dengan alam, dan berpijak pada kearifan lokal.

Karena kita percaya, petani bukan hanya penghasil pangan, mereka adalah pelindung bumi dan penjaga masa depan kita semua!

Rumah Kompos CU Maju Bersama, Langkah Nyata dari Desa untuk Bumi Lestari

Kontributor : Jupri Siregar

PETRASA terus konsisten mendampingi 103 kelompok Credit Union (CU) di 69 desa di Kabupaten Dairi untuk mendorong praktik pertanian yang selaras alam. Salah satu aksi nyata terbaru datang dari CU Maju Bersama di Desa Bakal Julu, Kecamatan Siempat Nempu Hulu, yang membangun Rumah Kompos sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam dan mendukung kedaulatan pangan lokal.

Gagasan pembangunan rumah kompos ini lahir dari pertemuan CU yang difasilitasi oleh Jupri Siregar, staf pendamping PETRASA. Diskusi bersama pengurus CU dan tim PETRASA pada 26 Mei 2025 menyepakati tujuan utama rumah kompos, yaitu:

  • Menyediakan kompos bagi kebutuhan pertanian anggota CU,
  • Mengurangi ketergantungan terhadap pupuk sintetis, dan
  • Memanfaatkan sampah organik rumah tangga dan lingkungan.

Proses pembangunan terus melibatkan partisipasi aktif anggota CU. Pada 8 Juni 2025, sebanyak 128 anggota hadir dalam rapat di Balai Desa untuk menyampaikan konsep rumah kompos, menentukan lokasi, dan membentuk kelompok kerja.

Puncaknya, pada 14 Juli 2025, 17 anggota CU berkumpul untuk mengikuti peletakan batu pertama pembangunan rumah kompos. Acara dimulai dengan ibadah singkat sebagai ungkapan syukur atas semangat gotong royong yang lahir dari CU itu sendiri. Pembangunan rumah kompos ini menjadi simbol komitmen kolektif petani dalam menerapkan pertanian ramah lingkungan.

Sebagai kelanjutan, CU Maju Bersama akan mengadakan pelatihan pembuatan bokashi dan ecoenzyme pada 25 Juli 2025. Pelatihan ini bertujuan memperkuat pemahaman petani tentang pengelolaan sampah organik, dengan bahan-bahan seperti daun, kulit buah, dan gula merah.

Pelatihan ini akan menjadi bekal dasar tentang pertanian selaras alam dan menjadi salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan sampah rumah tangga.

Jupri Siregar bersama Asef Hutasoit dan Ganda Sinambela dari PETRASA menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. Mereka menegaskan bahwa Rumah Kompos CU Maju Bersama adalah tonggak awal perubahan di desa—contoh nyata kolaborasi komunitas yang merespon isu lingkungan dengan cara yang mandiri dan berkelanjutan.

Langkah kecil ini adalah harapan besar bagi bumi yang lebih lestari.
Bersama Kita Bisa!

Pelatihan Pembuatan Asupan Organik untuk Budidaya Mina Padi

Pada 24 Februari 2025, Yayasan PETRASA mengadakan pelatihan pembuatan asupan organik di kantor mereka. Pelatihan ini diikuti oleh 20 peserta yang terdiri dari anggota kelompok dampingan PETRASA dan petani muda yang tertarik dengan pertanian organik.

Pelatihan dimulai dengan sesi materi mengenai pertanian berkelanjutan dan dampak perubahan iklim. Sesi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta mengenai tantangan yang dihadapi sektor pertanian serta tindakan adaptasi dan mitigasi yang dapat diterapkan. Setelah itu, peserta mendapatkan materi mengenai pemasaran melalui kios Pangula, yang dapat membantu petani dalam memasarkan hasil pertanian organik mereka.

Selanjutnya, peserta mendapatkan teori mengenai asupan dan nutrisi organik yang diperlukan dalam proses budidaya. Setelah sesi teori, peserta mengikuti praktik pembuatan berbagai jenis asupan organik, seperti Bokashi, pestisida nabati (Pesnab), dan Zat Pengatur Tumbuh (ZPT). Semua bahan yang digunakan berasal dari lingkungan sekitar, sehingga mudah diperoleh dan lebih ramah lingkungan.

Sebagai tindak lanjut, peserta berencana membuat asupan secara mandiri di kelompok masing-masing untuk keperluan pribadi. Mereka juga berkomitmen untuk membagikan ilmu yang telah diperoleh kepada anggota kelompok lain dan membantu dalam penerapan praktik pertanian organik di komunitas mereka.

Memahami dan Menjaga Kesuburan Tanah: Training of Trainer Ekologi Tanah

Tanah merupakan sistem hidup yang sangat penting sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup di bumi. Dalam upaya meningkatkan kesuburan tanah serta sebagai langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, Aliansi Organik Indonesia (AOI) mengadakan Training of Trainer (TOT) Ekologi Tanah. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ekologi tanah serta metode konservasi tanah, sehingga peserta dapat menjadi fasilitator yang nantinya akan melatih calon pelatih lainnya. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari dan diikuti oleh berbagai peserta, termasuk staf organisasi serta petani dampingan.

Pelaksanaan TOT Ekologi Tanah

Pelatihan TOT Ekologi Tanah kali ini diadakan di Learning Center Yayasan Ate Kelleng, berlangsung dari tanggal 11 hingga 14 Februari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah, termasuk Region Sumatera dan Kalimantan. Salah satu organisasi yang turut serta adalah PETRASA, yang mengirimkan dua orang staf dan satu orang petani dampingan.

Materi dan Kegiatan Pelatihan

Hari pertama dimulai dengan sesi pendidikan orang dewasa (andragogi), di mana peserta mempelajari teknik kepemanduan. Mereka diajarkan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan, merancang, serta mengevaluasi proses pelatihan agar dapat diterapkan dengan baik dalam konteks pertanian organik. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep ekologi tanah, termasuk sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh tanah.

Hari kedua berfokus pada sifat fisik tanah, seperti tekstur, porositas, kapilaritas, dan aerasi tanah. Peserta melakukan berbagai praktik, seperti menghitung persentase kandungan tanah (batuan, pasir, tanah liat, dan humus), menganalisis kebutuhan air tanaman, serta menguji kemampuan tanah dalam menyerap air dan menyediakan oksigen bagi organisme di dalamnya.

Hari ketiga membahas sifat kimia dan biologi tanah. Peserta melakukan uji pH tanah, mengidentifikasi unsur hara, serta mengukur kapasitas tukar kation (KTK). Selain itu, peserta juga mempelajari tiga kelompok utama organisme dalam tanah, yaitu mikroorganisme (bakteri, jamur, virus), mesoorganisme (nematoda), dan makroorganisme (cacing, serangga, akar tanaman).

Hari terakhir ditutup dengan diskusi mengenai unsur hara sebagai nutrisi penting bagi tanaman. Selain itu, peserta menyusun rencana tindak lanjut, yaitu berbagi pengetahuan dengan petani di lembaga dampingan masing-masing dan melaksanakan TOT di wilayah mereka.

Siap Menebar Dampak

Pelatihan ini menanamkan prinsip bahwa prioritas utama dalam pertanian organik adalah menyehatkan tanah terlebih dahulu. Dengan memahami kondisi tanah, petani dan fasilitator dapat menentukan perlakuan yang tepat bagi lahan pertanian mereka. Para peserta TOT diharapkan mampu menjadi fasilitator yang kompeten dalam bidang ekologi tanah, serta dapat menerapkan dan menyebarluaskan ilmu yang telah mereka peroleh di komunitas pertanian masing-masing.

Melalui pelatihan ini, diharapkan semakin banyak petani yang memahami pentingnya ekologi tanah dan mampu menerapkan metode konservasi tanah yang berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.

Orientasi Budidaya Lebah Madu di Desa Lingga Raja II: Solusi Adaptasi Perubahan Iklim dan Peningkatan Pendapatan Petani

Budidaya Lebah Madu PETRASA

Orientasi peternakan lebah madu di Desa Lingga Raja II, yang diselenggarakan bersama Pemerintah Desa Lumban Toruan, merupakan bagian dari tindak lanjut Sosialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim yang diadakan pada 28 Oktober 2024 di Desa Sumbul Tengah. Program ini merupakan upaya bersama Petrasa dan Pemerintah Desa Lumban Toruan untuk meningkatkan pendapatan petani sekaligus mengatasi dampak perubahan iklim melalui pengembangan peternakan lebah madu.

Pada orientasi ini, peserta mendapat wawasan dari Amang Laia, seorang petani-peternak lebah madu yang telah sukses dalam budidaya lebah madu dan pemasarannya. Ia berbagi pengalaman dan pengetahuan terkait budidaya lebah madu.

Keberadaan lebah madu sangat bermanfaat bagi sektor pertanian, karena lebah berperan penting dalam penyerbukan tanaman. Proses penyerbukan oleh lebah tidak hanya meningkatkan hasil panen, tetapi juga meningkatkan kualitas tanaman yang dihasilkan petani.

Selain itu, peternakan lebah madu juga mendukung penggunaan asupan organik yang ramah lingkungan. Asupan organik ini, yang diproduksi tanpa bahan kimia, sangat bermanfaat bagi kelangsungan hidup lebah dan menjaga keseimbangan ekosistem pertanian. Dengan mengembangkan peternakan lebah madu, para petani dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan pestisida, serta memanfaatkan produk lebah seperti madu dan propolis untuk menambah pendapatan mereka.

Melalui orientasi ini, diharapkan peternakan lebah madu dapat diterapkan secara luas di Desa Lingga Raja II sebagai langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim. Selain memberikan manfaat bagi lingkungan, peternakan lebah madu juga menjadi peluang ekonomi baru bagi petani setempat, sekaligus menjadi solusi cerdas untuk meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan di tengah tantangan perubahan iklim.

Dari Desa untuk Iklim: Pembuatan Asupan Organik di Sumbul Tengah

Pembuatan Kompos

Pelatihan Pembuatan Asupan Organik yang diselenggarakan di Desa Sumbul Tengah merupakan tindak lanjut dari Sosialisasi Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim yang dilaksanakan pada 18 Oktober 2024. Acara pelatihan ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Pemerintah Desa Sumbul Tengah, ibu-ibu PKK, dan Kelompok Tani, yang bersemangat untuk mengimplementasikan pengetahuan baru yang akan menguntungkan pertanian dan lingkungan mereka.

Antusiasme peserta terlihat jelas dari banyaknya pertanyaan yang diajukan, menandakan bahwa mereka sangat peduli terhadap masa depan pertanian yang berkelanjutan dan dampaknya terhadap perubahan iklim. Ini menjadi harapan kita bersama agar upaya pembuatan asupan organik dapat dilanjutkan dan berkembang ke depannya.

Dalam pelatihan ini, ibu-ibu PKK, Kelompok Tani, dan Pemerintah Desa Sumbul Tengah bekerja sama untuk memproduksi berbagai jenis asupan organik, seperti ZPT (Zat Pengatur Tumbuh), Pestisida Nabati, Bokashi, dan Eco Enzyme. Menariknya, semua bahan yang digunakan berasal dari sumber daya alam yang ada di desa, sehingga proses produksi ini tidak memerlukan biaya besar atau bahan kimia yang mahal. Sebagai hasilnya, mereka berhasil membuat sekitar 5 ember asupan organik yang siap digunakan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan mengurangi ketergantungan pada pestisida kimia.

Langkah ini tidak hanya menguntungkan dari sisi ekonomi karena mengurangi pengeluaran untuk pembelian bahan kimia, tetapi juga sangat bermanfaat bagi kesehatan tanah dan keberlanjutan lingkungan. Dengan mengurangi penggunaan bahan kimia, diharapkan kualitas tanah akan semakin baik, dan hasil pertanian dapat menjadi lebih sehat serta ramah lingkungan.

Melalui inisiatif ini, diharapkan Desa Sumbul Tengah dapat menjadi contoh bagi desa-desa lainnya dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Masyarakat desa berperan sebagai agen perubahan dalam menjalankan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, yang tidak hanya bermanfaat bagi mereka saat ini, tetapi juga bagi generasi yang akan datang.

Pelatihan Budidaya Mina: Padi Ramah Lingkungan untuk Tingkatkan Pendapatan Petani dan Mitigasi Perubahan Iklim

Pada tanggal 4 November 2024, Petrasa melaksanakan Pelatihan Budidaya Mina Padi di Kelompok CU Suka Makmur, yang diikuti oleh 25 petani antusias. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkenalkan sistem pertanian terpadu yang memadukan budidaya padi dan ikan dalam satu lahan—sebuah inovasi yang terbukti dapat meningkatkan produktivitas hasil tani sekaligus menambah sumber pendapatan bagi petani. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi langkah nyata dalam penerapan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan sebagai bentuk adaptasi dan mitigasi terhadap perubahan iklim.

Mengawali Perubahan dengan Kesadaran Iklim

Kegiatan ini dibuka dengan sesi pemahaman tentang perubahan iklim, yang menyoroti dampak nyata krisis iklim terhadap lingkungan dan sektor pertanian. Melalui sesi ini, peserta diberikan wawasan mendalam mengenai berbagai ancaman iklim yang semakin nyata, seperti perubahan pola cuaca, kekeringan, dan banjir yang mempengaruhi hasil panen. Dengan bertambahnya pemahaman ini, petani diharapkan dapat lebih peduli terhadap kondisi lingkungan serta terdorong untuk mengambil langkah-langkah adaptasi dan mitigasi dalam pertanian mereka.

Teknik Budidaya Mina Padi untuk Ketahanan Ekonomi dan Lingkungan

Sesi berikutnya mengupas seluk-beluk teknik budidaya mina padi, dari persiapan lahan, pemilihan bibit unggul, hingga strategi perawatan selama masa tanam dan panen. Sistem mina padi memungkinkan petani untuk menanam padi sekaligus memelihara ikan di lahan yang sama, menciptakan simbiosis yang saling menguntungkan. Ikan membantu membersihkan gulma dan hama serangga di sekitar tanaman padi, sementara padi memberikan naungan bagi ikan. Pola ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga menurunkan kebutuhan akan pestisida dan pupuk kimia.

Dalam sesi ini, peserta juga diajak untuk merancang tata letak lahan mina padi yang disesuaikan dengan kondisi sawah mereka. Melalui diskusi dan panduan teknis, peserta belajar bagaimana menciptakan lingkungan pertanian yang sehat dan berkelanjutan di lahan mereka sendiri.

Memahami Biaya dan Manfaat dengan Analisis Usaha

Salah satu sesi yang paling dinanti adalah analisis usaha. Dalam sesi ini, para petani belajar menghitung total biaya yang diperlukan mulai dari pengolahan lahan hingga panen, termasuk memperkirakan pendapatan dan keuntungan yang bisa dihasilkan dari sistem mina padi. Analisis ini sangat penting untuk menilai apakah sistem ini layak dikembangkan lebih lanjut dan menguntungkan bagi keberlangsungan ekonomi petani. Selain itu, pemahaman tentang keuntungan yang lebih besar melalui sistem mina padi dapat menjadi motivasi bagi petani untuk beralih ke pola tanam ini.

Membuat Pupuk Organik dan Pestisida Nabati dengan Bahan Lokal

Sebagai bagian dari pelatihan, peserta juga belajar membuat asupan nutrisi organik yang dibutuhkan tanaman dan ikan. Beberapa produk yang dibuat antara lain pestisida nabati dan perangsang tumbuh, dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal yang mudah diperoleh di sekitar mereka. Penggunaan bahan alami ini tidak hanya lebih murah tetapi juga lebih aman bagi lingkungan serta kesehatan petani dan konsumen.

Langkah Nyata untuk Masa Depan Pertanian Berkelanjutan

Di akhir kegiatan, para petani menunjukkan komitmen untuk menerapkan sistem mina padi pada lahan mereka di musim tanam berikutnya. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang mereka dapatkan, para petani ini tidak hanya meningkatkan potensi ekonomi keluarga, tetapi juga ikut berperan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya PETRASA dalam memberdayakan petani melalui inovasi yang berkelanjutan, dengan harapan dapat menciptakan pertanian yang tangguh terhadap perubahan iklim. Melalui budidaya mina padi, para petani dapat memanen dua sumber daya dari satu lahan, sekaligus berkontribusi pada upaya mitigasi iklim yang semakin mendesak. Petrasa berharap bahwa sistem pertanian ini bisa menjadi contoh inspiratif bagi lebih banyak petani di Indonesia untuk bergerak menuju masa depan yang lebih hijau, sehat, dan makmur.

Mari Bergabung dalam Gerakan Pertanian Selaras Alam dan Berkelanjutan!