Dari Botol Bekas hingga Mikroba: Cara Sederhana Memahami Ekologi Tanah di PETRASA

Belajar Ekologi Tanah Sederhana di PETRASA

Di akhir masa magangnya di PETRASA, Mizuki Oki, alumni dari Asian Rural Institute (ARI), mendapat kesempatan belajar langsung mengenai ekologi tanah bersama staf PETRASA, Elfriday Sihombing. Kegiatan ini menjadi bagian dari proses pembelajaran tentang pentingnya kesehatan tanah dalam mendukung pertanian berkelanjutan.

Tanah yang sehat merupakan fondasi utama bagi pertumbuhan tanaman dan keberlanjutan sistem pertanian. Karena itu, memahami kondisi tanah, baik dari sisi fisik, kimia, maupun biologi, menjadi pengetahuan penting bagi petani dan praktisi pertanian.

Dalam sesi pembelajaran ini, pengujian ekologi tanah dilakukan dengan metode yang sederhana dan mudah dipraktikkan. Berbagai alat yang digunakan berasal dari bahan yang mudah ditemukan di sekitar kita, seperti botol bekas, plastik, balon, dan bahan rumah tangga lainnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa mempelajari kesehatan tanah tidak selalu membutuhkan peralatan laboratorium yang mahal.

Beberapa pengujian yang dilakukan antara lain uji sifat fisik tanah, seperti uji struktur tanah, porositas, kapilerisasi, dan aerasi. Melalui pengujian ini, peserta dapat mengamati bagaimana tanah menyerap air, menyimpan air, serta melakukan pertukaran udara.

Selain itu, dilakukan juga uji sifat kimia tanah, salah satunya melalui pengujian pH tanah menggunakan kunyit sebagai indikator alami untuk mengetahui tingkat keasaman tanah.

Sementara itu, uji sifat biologi tanah dilakukan untuk melihat aktivitas mikroorganisme yang hidup di dalam tanah. Pengujian ini menggunakan botol bekas dan balon, serta mikroorganisme yang berasal dari bahan yang dibuat secara mandiri seperti eco-enzyme, IMO (Indigenous Microorganisms), dan PGPR (Plant Growth Promoting Rhizobacteria).

Dengan menggunakan beberapa sampel tanah yang berbeda, hasil pengujian dapat dibandingkan sehingga peserta dapat memahami karakteristik tanah dengan lebih baik.

Melalui metode yang sederhana ini, PETRASA menunjukkan bahwa pengetahuan tentang kesehatan tanah dapat dipelajari dan dipraktikkan oleh siapa saja. Pendekatan ini membuka peluang bagi petani, relawan, maupun masyarakat luas untuk lebih memahami dan merawat tanah sebagai dasar dari pertanian yang berkelanjutan.

Memahami dan Menjaga Kesuburan Tanah: Training of Trainer Ekologi Tanah

Tanah merupakan sistem hidup yang sangat penting sebagai sumber kehidupan bagi makhluk hidup di bumi. Dalam upaya meningkatkan kesuburan tanah serta sebagai langkah adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, Aliansi Organik Indonesia (AOI) mengadakan Training of Trainer (TOT) Ekologi Tanah. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang ekologi tanah serta metode konservasi tanah, sehingga peserta dapat menjadi fasilitator yang nantinya akan melatih calon pelatih lainnya. Kegiatan ini berlangsung selama empat hari dan diikuti oleh berbagai peserta, termasuk staf organisasi serta petani dampingan.

Pelaksanaan TOT Ekologi Tanah

Pelatihan TOT Ekologi Tanah kali ini diadakan di Learning Center Yayasan Ate Kelleng, berlangsung dari tanggal 11 hingga 14 Februari 2025. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah, termasuk Region Sumatera dan Kalimantan. Salah satu organisasi yang turut serta adalah PETRASA, yang mengirimkan dua orang staf dan satu orang petani dampingan.

Materi dan Kegiatan Pelatihan

Hari pertama dimulai dengan sesi pendidikan orang dewasa (andragogi), di mana peserta mempelajari teknik kepemanduan. Mereka diajarkan untuk menganalisis kebutuhan pelatihan, merancang, serta mengevaluasi proses pelatihan agar dapat diterapkan dengan baik dalam konteks pertanian organik. Selain itu, peserta juga diperkenalkan dengan konsep ekologi tanah, termasuk sifat-sifat dasar yang dimiliki oleh tanah.

Hari kedua berfokus pada sifat fisik tanah, seperti tekstur, porositas, kapilaritas, dan aerasi tanah. Peserta melakukan berbagai praktik, seperti menghitung persentase kandungan tanah (batuan, pasir, tanah liat, dan humus), menganalisis kebutuhan air tanaman, serta menguji kemampuan tanah dalam menyerap air dan menyediakan oksigen bagi organisme di dalamnya.

Hari ketiga membahas sifat kimia dan biologi tanah. Peserta melakukan uji pH tanah, mengidentifikasi unsur hara, serta mengukur kapasitas tukar kation (KTK). Selain itu, peserta juga mempelajari tiga kelompok utama organisme dalam tanah, yaitu mikroorganisme (bakteri, jamur, virus), mesoorganisme (nematoda), dan makroorganisme (cacing, serangga, akar tanaman).

Hari terakhir ditutup dengan diskusi mengenai unsur hara sebagai nutrisi penting bagi tanaman. Selain itu, peserta menyusun rencana tindak lanjut, yaitu berbagi pengetahuan dengan petani di lembaga dampingan masing-masing dan melaksanakan TOT di wilayah mereka.

Siap Menebar Dampak

Pelatihan ini menanamkan prinsip bahwa prioritas utama dalam pertanian organik adalah menyehatkan tanah terlebih dahulu. Dengan memahami kondisi tanah, petani dan fasilitator dapat menentukan perlakuan yang tepat bagi lahan pertanian mereka. Para peserta TOT diharapkan mampu menjadi fasilitator yang kompeten dalam bidang ekologi tanah, serta dapat menerapkan dan menyebarluaskan ilmu yang telah mereka peroleh di komunitas pertanian masing-masing.

Melalui pelatihan ini, diharapkan semakin banyak petani yang memahami pentingnya ekologi tanah dan mampu menerapkan metode konservasi tanah yang berkelanjutan, sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan.