Kebaikan Sahabat PETRASA Sampai ke Aceh Tamiang

Penyaluran Bantuan Banjir Aceh Tamiang_PETRASA

Penyaluran Bantuan untuk Penyintas Banjir Bandang Sumatra

Terima kasih, Sahabat PETRASA.

Donasi yang Sahabat himpun melalui PETRASA telah kami salurkan secara langsung kepada para penyintas banjir di Desa Paya Udang, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang.

Dalam proses penyaluran, PETRASA bekerja bersama relawan lokal desa untuk mendata keluarga yang paling membutuhkan dan belum menerima bantuan. Dari hasil pendataan tersebut, sebanyak 60 Kepala Keluarga (KK) menerima bantuan sesuai dengan kebutuhan dasar mereka.

Bantuan yang disalurkan berupa paket pangan dan kebutuhan harian, yang berisi beras, roti, perlengkapan mandi, serta ikan kering. Selain itu, kami juga menyampaikan donasi obat-obatan serta pakaian layak pakai yang telah Sahabat PETRASA percayakan.

Ungkapan syukur dan haru kami rasakan dari para warga penerima manfaat. Bantuan ini bukan hanya meringankan beban mereka, tetapi juga menghadirkan rasa tidak sendiri di tengah masa sulit.

Semoga Sumatra segera pulih, dan para penyintas diberikan kekuatan untuk bangkit kembali.

Terima kasih telah menjadi bagian dari gerakan kebaikan ini.

Saling bantu, saling menguatkan, saling bersatu untuk Indonesia.

PPODA Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang di Silima Pungga-pungga

“Bertolong-tolonganlah kamu menanggung bebanmu..” kalimat ini menjadi slogan yang dipegang oleh PPODA dan Yayasan Petrasa dalam menjaga solidaritas dengan petani dampingan di Kabupaten Dairi.

 

Pada, Senin, 25 Februari 2019, Perhimpunan Petani Organik Dairi (PPODA) memberikan bantuan kepada 97 anggota kelompok yang menjadi korban banjir bandang Desember 2018 lalu. Bantuan ini merupakan wujud solidaritas terhadap anggota PPODA.

Terhitung sejak Januari hingga Minggu Ke-3 Februari, PPODA bersama dengan Yayasan Petrasa mengorganisir 105 kelompok anggota PPODA untuk mengumpulkan sumbangan solidaritas dalam bentuk kolekte. Dana yang terkumpul dari 105 kelompok tersebut sebesar Rp 27.275.000,- . Dana tersebut kemudian disalurkan menjadi sumbangan dalam bentuk kebutuhan pokok yakni beras, gula dan minyak goreng.

Pengurus PPODA bersama dengan Yayasan Petrasa mendatangi langsung tiga titik desa yang terkena dampak banjir bandang. Ketiga titik tersebut antara lain Desa Sopo Komil, Desa Bonian, dan Desa Pandiangan.

Sebelum menyalurkan bantuan, pengurus PPODA, staf Yayasan Petrasa, dan anggota kelompok yang menjadi korban beribadah bersama di rumah anggota kelompok dampingan. Kebaktian singkat ini dibuat agar anggota kelompok yang menjadi korban bersama dengan PPODA dan staf Yayasan Petrasa bisa saling menguatkan dan mendoakan. Melalui kegiatan solidaritas ini juga, pengurus PPODA secara langsung memberi edukasi kepada korban bencana agar tetap menjaga semangat bertani, dan menjaga kelestarian lingkungan.

“Walaupun kami tinggal di kecamatan yang berbeda, kami ikut bersedih setelah mendengar kabar bencana alam Desember lalu yang menimpa kalian. Setelah melihat langsung kondisi lahan pertanian kalian, kami sungguh-sungguh berharap kalian kembali semangat mengolah ladang kalian dan kedepannya menjaga hutan supaya bencana ini tidak terulang lagi,” ungkap Peniel Limbong salah satu pengurus PPODA yang hadir di Desa Sopo Komil.

Anggota kelompok yang menjadi korban mengaku senang dan terharu dengan kehadiran pengurus PPODA dan staf Yayasan Petrasa di desa mereka. Dengan sumringah mereka berfoto bersama setelah menerima bantuan bahan pokok yang diserahkan setelah kebaktian bersama selesai.

Salah satu penerima bantuan dari Desa Pandiangan, Jamot Siregar mengungkapkan terima kasihnya. “Terima kasih sudah peduli dan datang jauh-jauh mengunjungi kami. Kami menjadi lebih semangat untuk memperbaiki lahan kami yang rusak.”

Koordinator Kegiatan Peduli Sopo Komil sekaligus staf Yayasan Petrasa, Muntilan Nababan menjelaskan betapa pentingnya menunjukkan perhatian langsung kepada petani dampingan yang menjadi korban. “Kami peduli dan kami ingin menjaga solidaritas ini dengan sungguh-sungguh. Semoga para korban kembali semangat mengolah lahan pertaniannya.”

Banjir bandang yang menerpa Kecamatan Silima Pungga-Pungga pada Desember 2018 lalu, masih meninggalkan duka bagi masyarakat setempat yang menjadi korban. Bencana alam ini merenggut 6 orang korban jiwa dan merusak lahan pertanian yang menjadi sumber mata pencaharian utama masyarakat di sana. Sebab batu, kayu, dan material alam lainnya yang terseret banjir bandang menutupi lahan pertanian mereka. Selain itu, banjir bandang menghancurkan bendungan, saluran irigasi sawah, dan akses jalan antar desa. Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk mengembalikan kesuburan lahan mereka agar dapat berproduksi kembali.